Manajemen Proyek Sistem Informasi
Dalam postingan kali kami akan membahas tentang Manajemen Proyek dan Sistem Informasi yg kami kutip dari sebuah Blog, semoga bermanfaat
Cekidooot....
Walaupun kenyataan sudah menunjukkan bahwa computer adalah alat untuk
mengolah data, namun banyak manajer beranggapan computer adalah unsur
inti dalam suatu sistem informasi. Sikap ini melebihkan nilai computer
dan mengkaburkan peranannya. Peranan dari sebuah computer adalah untuk
menyediakan informasi yang diperlukan untuk pengambilan
keputusan-keputusan dan untuk operasi perencanaan (planning) dan
pengendalian (control).
SISTEM secara sederhana dapat diartikan
sebagai suatu set unsur-unsur yang tergabung menjadi satu untuk suatu
tujuan bersama. Semua sistem merupakan bagian dari sistem-sistem lain
yang lebih besar. Pada suatu organisasi proyek, organisasi itulah
sistemnya dan bagian-bagiannya adalah
departemen-departemen/bagian-bagian/biro-biro dalam proyek itu sebagai
sub sistemnya. Integrasi dari sub-sitem-sub-sistemnya diusahakan melalui
penukaran (interchange) informasi.
INFORMASI perlu dibedakan dengan pengertian DATA, dan perbedaan ini
harus jelas dan adalah penting untuk maksud sistem informasi manajemen.
Data adalah kenyataan dan angka-angka yang sedang tidak dipakai dalam
suatu proses pengambilan keputusan, dan data biasanya berbentuk
“historical records” yang dicatat dan disimpan tanpa maksud segera
digunakan/dikeluarkan untuk pengambilan keputusan. Informasi terdiri
dari data yang sudah diperoleh kembali (dari records), dan telah diolah
atau digunakan untuk maksud-maksud informatif atau kesimpulan, ataupun
sebagai dasar untuk prediksi atau pengambilan keputusan.
MANAJEMEN telah diartikan dalam berbagai pengertian, tetapi dalam
pembahasan ini manajemen terdiri dari proses-proses atau
kegiatan-kegiatan yang mengutamakan apa yang dilakukan manajer-manajer
dalam mengoperasikan organisasi yang dipercayakan kepadanya; yakni
operasi-operasi perencanaan, pengorganisasian, inisiatif dan
pengendalian. Manajer merencanakan dengan menetapkan strategi dan tujuan
serta memilih arah tindakan yang terbaik agar rencana-rencana itu dapat
tercapai. Manajer mengatur tugas-tugas juga menyelesaikan tugas-tugas
itu dalam kelompok-kelompok yang kompak serta mengatur pelimpahan
wewenang-wewenang. Kemudian manajer mengendalikan prestasi/performa dari
pekerjaan dengan menentukan standar-standar performa serta mencegah
penyimpangan-penyimpangan terhadap standar-standar tersebut.
KESIMPULAN
Karena pengambilan keputusan adalah suatu syarat utama bagi
proses-proses yang telah diuraikan di muka, maka tugas suatu alat
informasi manajemen harus mampu memberikan fasilitas untuk mengambil
keputusan-keputusan, yang diperlukan untuk perencanaan, pengaturan dan
pengendalain pekerjaan-pekerjaan atau organisasi proyek/perusahaan.
PENYAJIAN INFORMASI DAN LAPORAN
Dalam melaksanakan manajemen proyek diperlukan komunikasi yang cukup
intens, sebab komunkasi ini dapat diibaratkan sebagai minyak pelumas
yang memperlancar gerak proyek menuju sukses. Penyampaian komunikasi
secara baik perlu diatur dan ini jelas akan merupakan bagian dari sistem
informasi manajemen dalam proyek tersebut. Maka menjadi teramat penting
untuk memperhatikan PENYAJIAN INFORMASI-INFORMASI tersebut.
Presentation of information sangat penting agar berbagai pihak dalam
proyek dan di luar organisasi proyek benar-benar memperoleh informasi
yang berguna.
Komunikasi lisan dilakukan dalam rapat-rapat, dimana masalah agenda,
risalah dan lain-lain cara penyajian yang digunakan perlu mendapat
perhatian. Dalam komunikasi yang tertulias kita kenal teknik-teknik
penyajian seperti charts, bagan-bagan, table-tabel dan lain-lain.
(graph/curve, bar chart, column, mixed/combination chart, circle chart).
Laporan-laporan menduduki tempat yang penting dalam penyajian informasi
ini.
Penyajian informasi kepada manajemen dan staf pada semua tingkat,
memerlukan pemikiran, kesabaran dan pengamqan oleh manajer proyek
dan/atau stafnya. Salah satu hal yang perlu diingat adalah, bahwa
penyajian itu harus disesuaikan dengan tingkat manajemen yang akan
menerima informasi itu, misalnya top-departemen, tingkat manajer
fungsional/departemen, manajer operasional dan lain-lain.
Unsur-unsur informasi manajemen pada proyek-proyek yang penting
adalah : • Perbandingan (rasio) biaya terhadap anggaran. • Perbandingan
(rasio) kemajuan proyek terhadap rencana/jadwal.
Dalam manajemen banyak digunakan rasio-rasio untuk
indikator-indikator. Rasio lebih memberikan arti daripada angka-angka
yang berdiri sendiri, sehingga rasio-rasio semacam ini dapat membantu
pimpinan dalam : • Menganalisa situasi dalam perencanaan. • Memonitor
hasil kerja (performance) dalam perencanaan.
Dengan menggunakan rasio-rasio itu, manajemen dapat mengambil
tindakan yang relevan dangan problema yang ada dan terhindar dari
kemungkinan tindakan yang tidak relevan.
Unsur-unsur informasi manajemen lain adalah antara lain : • Perkiraan
biaya yang akan dihadapi. • Perkiraan penyelesaian bagian-bagian
proyek. • Masalah-masalah yang timbul.
Dalam menyajikan informasi mengenai hal-hal yang berulang terjadi
misalnya progress bulanan atau pekanan, maka kerap kali bukan lagi
masing-masing angka yang penting, tetapi lebih diperlukan
fluktuasi-fluktuasi itu dirubah menjadi suatu laju (trend), misalnya
dengan menunjukkan “angka rata-rata yang bergerak” (moving averages)
Walaupun penggunaan table-tabel, grafik-grafik/charts dan lain-lain
gambar akan mempermudah proses mengambil keputusan oleh manajemen, namun
ini tidak berarti bahwa penyajian informasi tidak lagi perlu adanya
laporan tertulis. Tetapi singkat serta senantiasa memperhatikan
tingkat-tingkat manajemen yang menerimanya.
Tidak ada manajer yang ingin menghabiskan waktunya untuk menelusuri
laporan yang panjang dan ternyata menemukan posisi keadaan tidak
diuraikan secara jelas pada bagian akhir laporan tersebut, sedangkan
sebenarnya keadaan sudah mendesak agar segera diambil
keputusan-keputusan oleh manajer proyek. Umpan balik (feedbacks) dan
pengendalian (control) di dalam tubuh proyek berkaitan erat dengan
sistem informasi pada manajemen proyek sendiri
Kebijakan dan Perencanaan Proyek Sistem Informasi
Suatu sistem informasi dapat dikembangkan karena adanya kebijakan
dan perencanaan telebih dahulu. Tanpa adanya perencanaan sistem yang
baik, pengembangan sistem tidak akan dapat berjalan sesuai dengan yang
diharapkan. Tanpa adanya kebijakan pengembangan sistem oleh manajemen
puncak, maka pengembangan sistem tidak akan mendapat dukungan dari
manajemen puncak tersebut.
3.2.1. Kebijakan Sistem
Kebijakan untuk mengembangkan sistem informasi dilakukan oleh
manajemen puncak karena manajemen menginginkan untuk meraih
kesempatan-kesempatan yang ada yang tidak dapat diraih oleh sistem yang
lama atau sistem lama mempunyai kelemahan (masalah)
3.2.2. Perencanaan Sistem
Perencanaan sistem menyangkut estimasi sumberdaya (kebutuhan-
kebutuhan fisik dan tenaga kerja) dan biaya. Perencanaan sistem terdiri dari :
perencanaan jangka pendek (periode 1–2 tahun) dan jangka panjang
(periode sampai 5 tahun).
Perencanaan sistem biasanya ditangani oleh staf perencanaan sistem,
departemen pengembangan sistem atau depertemen pengolahan data.
3.2.3. Proses Perencanaan Sistem
Proses perencanaan sistem dapat dikelompokkan dalam tiga proses
utama, yaitu :
1. Merencanakan proyek-proyek sistem
Tahapan proses perencanaan sistem yaitu :
Mengkaji tujuan, perencanaan strategi dan taktik perusahaan
Mengidentifikasi proyek-proyek sistem
Menetapkan sasaran proyek-proyek sistem
Menetapkan kendala proyek-proyek sistem (mis. Batasan biaya, waktu,
umur ekonomis, peraturan yang berlaku)
Menetukan prioritas proyek-proyek sistem
Membuat laporan perencanaan sistem
Meminta persetujuan manajemen
1. Mempersiapkan proyek-proyek sistem yang akan dikembangkan
Persiapan ini meliputi :
Menunjuk team analis (dapat berasal dari departemen pengembangan
yang ada atau dari luar perusahaan (konsultan)
Mengumumkan proyek pengembangan sistem
1. Mendefinisikan proyek-proyek sistem yang dikembangkan
Melakukan studi untuk mencari alternatif pemecahan terbaik yang paling
layak untuk dikembangkan. Tahapan yang dilakukan yaitu :
Mengidentifikasi kembali ruang lingkup dan sasaran proyek sistem
Melakukan studi kelayakan
Menilai kelayakan proyek sistem
Membuat usulan proyek sistem
Meminta persetujuan manajemen
III.Manajemen Proyek Sistem Informasi
3.3. Perkiraan Proyek Sistem Informasi
Sekarang biaya merupakan elemen yang paling penting dan mahal dalam
pengembangan sistem berbasis komputer. Perkiraan biaya yang salah atau kurang tepat
dapat mengurangi keuntungan atau malah kerugian. Perkiraan biaya sistem informasi
dan usaha tidak dapat dihitung dengan tepat, karena banyak variabel (manusia, teknikal,
lingkungan) yang mempengaruhinya.
Untuk mencapai perkiraan biaya dan usah yang dapat diandalkan, digunakan
pilihan sebagai berikut :
Memperkirakan waktu yang paling lama dari pengerjaan proyek
Perkiraan berdasarkan pada proyek yang sama
Menggunakan teknik dekomposis
Menggunakan satu atau lebih model empiris
Memperkirakan waktu untuk menyelesaikan setiap kegiatan merupakan bagian
yang paling sulit, untuk itu butuh pengalaman dalam memperkirakan waktu yang
diperlukan. Penjadwalan tugas-tugas (kegiatan) dapat menggunakan :
1. Grafik Gantt
Merupakan suatu grafik dimana ditampilkan kotak-kotak yang mewakili setiap tugas
(kegiatan) dan panjang masing-masing setiap kotak menunjukkan panjang relatif
tugas-tugas yang dikerjakan.
2. Diagram PERT (Program Evaluation and Review Techniques)
Suatu program (proyek) diwakili dengan jaringan simpul dan tanda panah yang
kemudian dievaluasi untuk menentukan kegiatan-kegiatan terpenting, meningkatkan
jadwal yang diperlukan dan merevisi kemajuan-kemajuan saat proyek telah
dijalankan. Diagram PERT lebih baik dari Gantt, karena :
- Mudah mengidentifikasi tingkat prioritas
- Mudah mengidentifikasi jalur kritis dan kegiatan-kegiatan kritis
- Mudah menentukan waktu kendur
3. Penjadwalan proyek berbasis komputer
menggunakan PC untuk membuat jadwal proyek lebih praktis dan menguntungkan.
Contoh program penjadwalan yaitu Ms Project, Symantec’s Timeline dan Computer
Associates’ CA-Super Project.
III.Manajemen Proyek Sistem Informasi
Proses pengembangan sistem informasi (PL) dikembangkan oleh pelaku-pelaku
yang dapat dikatagorikan dalam 5 kelompok :
1. Manajer senior, yang bertugas mendefinisikan permasalahan-permasalahan bisnis
dan sangat berpengaruh pada proyek tersebut.
2. Manajer proyek (teknik), yang merencanakan, memotivasi, mengorganisasi dan
mengontrol orang-orang yang bekerja dalam proyek tersebut (praktisi).
3. Praktisi, adalah orang yang mempunyai kemampuan teknis yang dibutuhkan untuk
mendapatkan produk sistem informasi (program aplikasi).
4. Pelanggan, adalah orang yang membutuhkan sistem informasi (PL) tersebut.
5. Pengguna akhir, orang yang berinteraksi dengan sistem informasi (PL) yang
dikaitkan dengan penggunaan produk
www.ilmukomputer.com
Manajemen Proyek Pengembangan Aplikasi Perangkat Lunak Komputer
Seorang rekan mengirimkan e-mail tentang manajemen proyek teknologi
informasi. Berhubung sangat luasnya ruang lingkup pekerjaan yang ada
dalam proyek pengembangan sistem berbasis teknologi informasi maka saya
batasi hanya pada proyek pengembangan aplikasi perangkat lunak komputer.
Metodologi kerja yang digunakan dalam pengembangan aplikasi perangkat
lunak ini adalah RUP (rational unified process). RUP termasuk dalam
metodologi berorientasi obyek sehingga dalam implementasinya pun
diarahkan pada pemograman berorientasi obyek (object oriented
programming/OOP).
Keunggulan metodologi kerja berorientasi obyek dibandingkan dengan
metodologi prosedural yang banyak dipakai di era jadul (jaman dahulu)
adalah setiap kegiatan yang termasuk di dalamnya dapat dilakukan secara
paralel.
Sehingga dapat mempersingkat waktu dan menghemat sumber daya yang ada
dibandingkan dengan metodologi berorientasi prosedural yang menuntut
diselesaikannya dengan baik dari setiap tahapan kegiatan.
Jika kemudian terdapat kekurangan/kesalahan di fase sebelumnya maka
kemungkinan besar harus diulang dari awal dalam proses pekerjaannya.
Sedangkan dalam metodologi berorientasi obyek, setiap tahapan
pekerjaan dapat dilaksanakan dan dievaluasi kapanpun secara paralel.
Dalam RUP, pengembangan perangkat lunak dibagi ke dalam 4 tahapan yang memiliki fokus yang erbeda-beda.
Empat tahapan Metodologi RUP adalah sebagai berikut:
Insepsi: Melakukan pengumpulan data, menetapkan ruang lingkup, serta analisis dan desain awal.
Elaborasi: Melakukan penjabaran analisa kebutuhan dan menetapkan
arsitektur serta kerangka aplikasi. Analisa dan desain sistem mulai
dilakukan.
Konstruksi: Melakukan analisa dan desain teknis diikuti dengan pengkodean ke dalam kode sumber aplikasi.
Transisi: Melakukan transisi dari pengembangan dan testing menuju
penggunaan sesungguhnya, meliputi pemaketan, instalasi, uji coba oleh
pengguna, pelatihan, konversi data, dan konfigurasi akhir.
Dimana di dalam setiap fase ini ada beberapa bidang kegiatan yang akan berlangsung secara paralel yang terdiri atas:
Business modeling: mendokumentasikan proses bisnis, yaitu cara kerja
pengguna dalam memanfaatkan aplikasi ini (baik tanpa aplikasi maupun
cara kerja yang diinginkan dengan menggunakan aplikasi).
Requirements: mendeskripsikan secara detil apa yang akan dilakukan
oleh aplikasi, hal ini dilakukan dengan penyusunan dokumen use-case dan
business rules.
Analysis and Design: mendeskripsikan solusi teknis yang akan
digunakan untuk mencapai perilaku yang sudah ditetapkan dalam kegiatan
requirement. Desain di sini meliputi desain alur, desain interaksi,
desain visual, dan desain teknis.
Implementation: merealisasikan desain ke dalam kode komputer yang dapat dieksekusi oleh komputer.
Test: melakukan uji coba untuk menghilangkan kesalahan-kesalahan yang
mungkin timbul. Uji coba terdiri dari dua jenis, yaitu uji coba proses
yang dilakukan secara otomatis oleh software dan uji coba antar muka
yang dilakukan oleh tester.
Deployment: melakukan pemaketan, instalasi, konversi data, konfigurasi aplikasi.
Configuration and Change Management: pengelolaan dokumentasi, kode,
dan aplikasi yang dihasilkan dalam pengerjaan proyek terutama berkaitan
dengan perubahan-perubahan yang terjadi.
Project management: meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan,
pengelolaan sumber daya, pembagian tugas, pengontrolan, dan evaluasi tim
kerja.
Environment: pengelolaan alat, sarana, prosedur, guidelines yang diperlukan pada saat pengembangan.
Sistem Informasi Manajemen Pendidikan (EMIS)
SEQIP telah mengembangkan serangkaian prosedur dan kegiatan yang
terbukti berhasil meningkatkan kualitas pelajaran IPA di sekolah dasar.
Agar kemajuan yang telahdicapai dapat berlanjut dalam jangka panjang dan
untuk menjaga kualitas program, maka Dinas Pendidikan di tingkat
kabupaten dan kotamadya harus dilibatkan dalam proyek.
Untuk mencapai target ini, serangkaian prosedur administrasi yang
disebut Sistem Informasi Manajemen Pendidikan (Education Management
Information System – EMIS) dikembangkan untuk staf dan pegawai di kantor
dinas pendidikan kabupaten/kotamadya. EMIS dapat digunakan untuk
menilai kinerja para guru dan siswa di dalam kelas dan, jika diperlukan,
untuk mengambil langkah perbaikan yang tepat.
Tujuan EMIS adalah:
Mengumpulkan data melalui sarana yang tepat
Pengolahan data
Menganalisis data dengan menggunakan prosedur yang tepat seperti statistik
Menghasilkan interpretasi atas data
Menarik kesimpulan yang tepat
Memberikan informasi yang penting kepada pengambil keputusan melalui prasarana yang tepat
Prosedur pelatihan yang sesuai dirancang dan dilaksanakan untuk
membangun kapasitas yang diperlukan untuk seluruh pihak (stakeholder)
terkait. Pelatihan ini meliputi antara lain desain soal-soal ulangan
yang sejalan dengan tujuan proyek, pengolahan data secara elektronis,
pengolahan data menggunakan kalkulator, menganalisis dan menilai hasil,
menulis laporan dan mempresentasikan temuan-temuan.
Sejauh ini hasil-hasil yang dicapai sangat menggembirakan dan
diharapkan EMIS akan terintegrasi dalam aktivitas rutin di tingkat
kabupaten/kotamadya.
Konsep Manajemen Proyek
Manajemen proyek sistem informasi ditekankan pada tiga faktor, yaitu : manusia,
masalah dan proses. Dalam pekerjaan sistem informasi faktor manusia sangat berperan
penting dalam suksesnya manajemen proyek. Pentingnya faktor manusia dinyatakan
dalam model kematangan kemampuan manajement manusia (
a people management
capability maturity model
/ PM-CMM) yang berfungsi untuk meningkatkan kesiapan
organisasi perangkat lunak (sistem informasi) dalam menyelesaikan masalah dengan
melakukan kegiatan menerima, memilih, kinerja manajemen, pelatihan, kompensasi,
pengembangan karier, organisasi dan rancangan kerja serta pengembangan tim.
3.1.1. Dasar-Dasar Organisasional
Organisasi adalah sistem yang saling mempengaruhi dan salaing bekerja sama
antara orang yang satu dengan orang yang lain dalam suatu kelompok untuk mencapai
suatu tujuan tertentu yang telah disepakati bersama. Organisasi merupakan sistem
maka terdiri dari beberapa elemen yaitu :
1. orang, dalam organisasi harus ada sekelompok orang yang bekerja dan salah
satunya ada yang memimpin organisasi tersebut.
2. tujuan, dalam organisasi harus ada tujuan yang harus dicapai, baik dalam jangka
pendek maupun jangka panjang.
3. posisi, setiap orang yang ada dalam suatu organisasi akan menempati posisi atau
kedudukannya masing-masing.
4. pekerjaan, setiap orang yang ada dalam organisasi tersebut mempunyai pekerjaan
(job) masing-masing sesuai dengan posisinya.
5. teknologi, untuk mencapai tujuan organisasi membutuhkan teknologi untuk
membantu dalam pengolahan data menjadi suatu informasi.
6. struktur, struktur organisasi merupakan pola yang mengatur pelaksanaan pekerjaan
dan hubungan kerja sama antar setiap orang yang ada dalam organisasi tersebut.
7. lingkungan luar, merupakan elemen yang sangat penting dan akan mempengaruhi
keberhasilan suatu organisasi, misalnya adanya kebijakan pemerintah tentang
organisasi.
Prinsip-prinsip organisasi adalah nilai-nilai yang digunakan sebagai landasan kerja
bagi setiap orang yang ada dalam organisasi tersebut untuk mencapai keberhasilan
tujuan yang telah disepakati. Prinsip-prinsip yang ada dalam organisasi meliputi :
1. tujuan organisasi yang jelas
2. tugas yang dilakukan harus jelas
3. pembagian tugas yang adil
4. penempatan posisi yang tepat
5. adanya koordinasi dan integrasi
Manajemen dalam organisasi terdiri dari tiga tingkatan pembuat keputusan
manajemen yaitu : manajemen tingkat bawah (operasional), manajemen tingkat
menengah (perencanaan dan kontrol manajerial) dan manajemen tingkat atas
(strategik). Setiap level memiliki tanggung jawabnya sendiri-sendiri dan semuanya
bekerja sama dalam mencapai tujuan dan sasaran.
1. Manajemen tingkat bawah (operasional)
- Manajer operasional membuat keputusan berdasarkan aturan-aturan yang telah
ditetapkan sebelumnya dan menghasilkan hal-hal yang dapat diprediksikan bila
diterapkan dengan benar.
- Manajer operasi adalah pembuat keputusan yang pekerjaannya lebih jelas
sehingga dapat mempengaruhi implementasi dalam jadwal kerja, kontrol
inventaris, penerimaan, dan pengontrolan proses-proses seperti produksi.
- Manajer operasi membutuhkan informasi internal yang repetitif, dan sangat
tergantung pada informasi yang memuat tentang kinerja terbaru dan merupakan
pengguna
on-line
terbesar, sumberdaya-sumberdaya informasi
real-time
2. Manajemen tingkat menengah (perencanaan dan kontrol manajerial)
- Manajer tingkat menengah membuat perencanaan jangka pendek dan
mengontrol keputusan-keputusan tentang bagaimana sumberdaya bisa
dialokasikan dengan baik untuk memenuhi tujuan-tujuan organisasional, dan
meramalkan kebutuhan-kebutuhan sumberdaya dimasa datang untuk
meminimalkan problem-problem pegawai yang dapat membahayakan
produktivitas.
- Manajer tingkat menengah sangat tergantung pada informasi internal dan
membutuhkan sangat besar informasi
real- time
agar dapat melakukan
pengontrolan dengan tepat dan informasi terbaru atas kinerja yang diukur sesuai
standar.
3. Manajemen tingkat atas (strategik)
- Manajer strategik membuat keputusan-artikel iyang akan membimbing
manajer operasional dan manajer tingkat menengah.
- Manajer strategik bekerja di lingkungan pembuat keputusan yang sangat tidak
pasti. Membutuhkan informasi yang bersifat strategis, karena tugas kesehariannya
adalah pengarahan dan perencanaan.
- Informasi yang strategis diperlukan untuk menilai tingkat keberhasilan organisasi
menjalankan tugas dan tujuan organisasi.
- Membutuhkan informasi internal (agar bisa beradaptasi dengan perubahan-
perubahan yang terjadi dengan cepat) dan informasi eksternal (untuk mengetahui
peraturan pemerintah,kebijakan perekonomian, kondisi pasar dan strategi
perusahaan-perusahaan pesaing)
jadi dapat disimpulkan sendiri dari apa yg ditulis dari postingan kali ini, artikel ini kami kutip dari
http://muktiraga.wordpress.com/2007/12/15/manajemen-proyek-sistem-informasi/ semoga dapat bermanfaat hahah